"Berani karena benar" sudah tidak spesial lagi. Sekarang yang spesial adalah "Ngawur Tapi Benar". Sujiwo Tejo menghidangkan hal-hal yang spesial dalam buku ini.
Bak martabak spesial, tepatnya martabaknya dari kengawuran yang berfondasi kebenaran. Jurus-terakhir bagi kita setelah mentok pada jurus-jurus lain yang konon sistematis, santun dan berbudi pekerti. Setelah kita endus bahwa dibalik kedok bertata, sopan dan bertata krama itu hanyalah kepalsuan, ketika itulah ngawurisme bermula.